Pendaftaran: 9 Jan - 15 Feb 2018, Tes : 18 Februari 2018, Pengumuman Hasil Tes : 24 Feb 2018, Tes Kesehatan : 26-28 Feb 2018, Daftar Ulang : 28 Feb, 1-2 dan 5-7 Maret 2018
Sebaran Alumni TP 2016/2017 per 10 Januari 2018
Selamat Kepada Marwan Subroto,S.Pd. dan Hardiyanto,S.Pd.
HASIL AKREDITASI 2016 SMA Labschool Kebayoran
1 Perak, 2 Perunggu di OSN 2016 Palembang
Data Alumni SMA Labschool Kebayoran 2015-2016
1Labs
 spirit 1labs

MEMAKNAI  “SATU LABS”
Oleh: Risang Danardana


    Tulisan ini dibuat untuk mengiringi dan menyambut empat peristiwa, yaitu pertama, menyambut Rektor baru Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Bapak Prof. Dr. Djaali, yang secara historis dan struktural, Labschool tidak bisa dilepaskan dari UNJ melalui YP (Yayasan Pembina) UNJ. Kedua, menyambut penyusunan renstra Labschool 2014 – 2025. Ketiga, menyambut lokakarya tahunan guru-guru Labschool 2014 yang fokus materinya pada Kurikulum 2013, dan keempat, menyambut kegiatan 1’Labs Fun Walk untuk Nusantara pada 14 Desember 2014. Empat peristiwa di tahun 2014 ini, setelah Labschool berusia 22 tahun (1992 - 2014), menurut penulis sangat penting dijadikan sebagai titik awal untuk Labschool memperluas dan meningkatkan perannya dalam dunia pendidikan.
    


    Tema lokakarya guru Labschool tahun 2012, “Spirit Satu Labs untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan Indonesia”, sangat relevan untuk menata dan merancang peran Labschool dalam dunia pendidikan. Tema ini penting kita aktualisasikan kembali untuk membawa semangat dan pembaruan cita-cita.
    Sebuah tema itu kontekstual, dilatarbelakangi oleh peristiwa atau keadaan tertentu yang kemudian memunculkan ide untuk mencapai sesuatu. Sebuah tema adalah suatu gagasan umum dan besar yang mestinya tidak berhenti hanya sebagai sebuah slogan sesaat, apalagi sekedar untuk kepentingan lokakarya tanpa kita beri makna dan tanpa kita realisasikan. Penulis mengajak keluarga besar Labschool untuk mendalami tema lokakarya guru tahun 2012, dua tahun yang lalu ini dan sekaligus memaknai Spirit Satu Labs.

    
Peningkatan Kualitas Pendidikan di Indonesia
    Tema ini menurut penulis mengandung konsep internal Labschool dan gagasan atau cita-cita besar, terdiri dari dua frasa, yaitu spirit satu Labs dan peningkatan kualitas pendidikan Indonesia. Kita mulai dari frasa yang kedua, yaitu peningkatan kualitas pendidikan Indonesia. Meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia harus dilakukan dan diwujudkan secara nyata oleh Labschool. Labschool memang bisa diibaratkan ‘hanya’ satu akar kecil diantara akar-akar pohon pendidikan yang besar. Tetapi akar yang kecil itu bisa memiliki peran yang sedemikian besar untuk menumbuhkan pohon itu menjadi besar dan kuat dengan buah pendidikan yang segar, manis, bergizi, dan menyehatkan bangsa ini.
    Ketika Labschool mendapatkan kepercayaan dari publik atau masyarakat, yang dapat dilihat dari besarnya minat orangtua menyekolahkan putra-putrinya di Labschool ataupun karena kemauan anaknya sendiri untuk bersekolah di Labschool, maka sudah seharusnya dan sudah waktunya Labschool meningkatkan daya tampungnya. Meningkatkan daya tampung berarti meningkatkan kesempatan masyarakat untuk dididik oleh Labschool.
    Peluang seorang anak untuk diterima di setiap unit sekolah Labschool saat ini sekitar 1 : 5, artinya terdapat sekitar 850-an calon siswa yang tidak dapat diterima bersekolah di Labschool. Jumlah ini adalah mereka yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya, sehingga terkesan masyarakat berebut untuk masuk Labschool. Minat yang besar ini tentu timbul setelah mengamati, bertanya, menilai Labschool atau mungkin mengalami sendiri melalui kakaknya yang telah alumni atau sedang belajar di Labschool. Jika minat besar ini dimaknai bahwa masyarakat percaya pada proses pendidikan di Labschool, maka asumsinya apabila di daerah-daerah lain di luar Jakarta ada Labschool kemungkinan besar juga akan diminati dan diserbu oleh masyarakat.
    
    Oleh karena itu sudah waktunya mulai dirintis untuk Labschool harus ada di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Timor, Papua, dan pulau-pulau lain di seluruh nusantara. Langkah ini adalah salah satu cara dan bentuk peningkatan peran Labschool dalam pendidikan. Sudah waktunya Labschool melakukan langkah-langkah yang strategis. Melalui langkah ini maka ide proses pendidikan yang baik ‘ala Labschool’ dapat tersebar ke seluruh nusantara. Terlalu sayang jika ide proses pendidikan yang baik hanya melayani wilayah Jakarta dan sekitarnya, tidak meluas ke seluruh wilayah Indonesia, atau setidaknya provinsi lain di Pulau Jawa. Jika ini dapat diwujudkan, maka peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia melalui Labschool seperti dicanangkan dalam spanduk lokakarya guru 2012, dengan sendirinya dapat tercapai.
    Jika kita mau merenungkan, sesungguhnya hal ini juga sejalan dengan gagasan, semangat dan cita-cita yang terkandung dalam penggalan syair lagu Hymne Labschool, “Dalam hati kami semua tertanam kesan yang dalam jasa serta peran Labschool Universitas Negeri Jakarta ....”.  Makna kalimat ini adalah menunjukkan selalu menyalanya semangat dan cita-cita Labschool untuk punya jasa serta peran, ada semacam kewajiban moril untuk berkontribusi bagi kemajuan pendidikan bangsa ini. Ditempatkannya kalimat ini pada bagian pembuka atau awal lagu hymne ini, sekaligus menunjukkan betapa pentingnya kewajiban moril ini untuk dilaksanakan oleh Labschool. Semua itu dilakukan untuk menuju kalimat terakhir atau penutup hymne itu : “..... Indonesia jaya”.
    Rektor UNJ, ketika itu Bapak Bedjo Suyanto, selaku Ketua Yayasan Pembina  UNJ dalam sebuah kesempatan Rapim Labschool, tanggal 30 Juni 2008, berarti enam tahun yang lalu, menyatakan : “punya obsesi Labschool menjadi besar, artinya membuka cabang yang banyak dengan kualitas yang baik supaya bisa memberi kontribusi bagi bangsa. Semakin besar semakin ruwet ngurusnya, perlu kerja keras dan kebersamaan. Peluang-peluang itu ada (untuk menjadi besar), ada jalan untuk maju tapi ada jebakan-jebakan yang bisa membuat jatuh, tetapi jangan takut.”  Arahan pak Bedjo sangat relevan dengan tema lokakarya 2012 di spanduk. Kini, waktunya untuk menata dan merancang peran Labschool ke depan dalam dunia pendidikan. Dan kini, juga waktunya bagi Labschool untuk mewujudkannya secara bertahap melalui langkah-langkah konkret dan terukur.
    Lebih lanjut waktu itu Pak Bedjo menyampaikan bahwa jalan tidak pernah berujung, artinya “Labschool” akan dilanjutkan oleh generasi berikutnya, jadi buatkan jalan yang baik untuk generasi berikut. Artinya, sudah waktunya untuk Labschool mulai melakukan unifikasi dan kodifikasi proses-proses atau sistem pendidikannya pada aspek-aspek tertentu yang pokok dan mendasar, sehingga bisa menjadi pedoman bagi sekolah-sekolah Labschool yang baru dan yang akan lahir. Akan tetapi, sekalipun ada unifikasi dan kodifikasi tetap harus diberikan ruang kebebasan untuk setiap unit sekolah mengembangkan dirinya sesuai kebutuhan lokal.
    
    Labschool kita baru memiliki tiga sekolah. Jika kita mencoba melihat sekolah lain, seperti Al-Azhar, walaupun berbeda manajemen jumlahnya banyak dan tersebar di berbagai pulau dan kota di Indonesia. Muhammadiyah, jumlahnya juga banyak dan tersebar di seluruh Indonesia. Sekolah-sekolah Ma’arif yang bernaung di bawah NU memiliki 300-an sekolah di seluruh Indonesia. Sekolah Tarakanita memiliki 61 sekolah di seluruh Indonesia. Di Jakarta sekolah PSKD, BPK Penabur terdapat lebih dari empat. Jumlah memang tidak menjamin kualitas, tetapi jika kualitas baik dengan jumlah yang lebih banyak tentu akan memberikan kontribusi yang lebih besar.
    
    Menurut penulis, setidaknya setiap 3 – 5 tahun bisa berdiri 1 atau 2 Labschool. Perlu dibuat sistem atau mekanisme untuk mewujudkan hal ini. Hal yang perlu diingat adalah jika tidak dipikirkan dan dilakukan langkah-langkah konkret dengan sungguh-sungguh, dan hanya mengandalkan peluang itu datang, maka tidak akan pernah Labschool bertambah dengan lebih cepat. Dan ini akan mengurangi atau memperlambat peluang berkontribusi.
    Labschool Jakarta di Rawamangun berdiri 1992 setelah sebelumnya bernama SMA Negeri 81, setelah 9 tahun di 2001 berdiri Labschool Kebayoran. Selanjutnya menunggu 10 tahun di 2011 baru berdiri dan beroperasi Labschool Cibubur. Bayangkan dalam waktu 22 tahun hanya bisa berdiri 2 Labschool, tiga dengan Labschool Cinere yang sudah berakhir.
    Pertanyaannya, apakah perlu menunggu lebih dari 5 atau 10 tahun untuk berdiri Labschool berikutnya ?  Tentu tidak perlu, jika mau bekerja keras seperti kata pak Bedjo. Cukup dibentuk Tim Khusus atau Panitia Khusus (Pansus) atau Tim Ad Hoc yang bertugas selama 3 – 5 tahun yang harus bekerja secara aktif dan proaktif, bertanggung jawab mencari peluang, men-survey (studi kelayakan), membangun, hingga sekolah berdiri dan operasional. Setelah itu tim selesai tugasnya dan bisa dibubarkan. Dan dalam kurun waktu yang sama dapat dibentuk 2 atau 3 tim berbeda, dengan tugas yang sama, yaitu mendirikan sekolah. Dengan langkah seperti ini percepatan pendirian Labschool dapat terjadi. Supaya tim dapat bergerak cepat maka secara teknis lebih baik ditempatkan di bawah koordinasi BPS, bukan Yayasan, tetapi dalam pelaksanaannya segala perkembangan pendirian sekolah baru itu dilaporkan dan dimintakan persetujuan oleh BPS kepada Yayasan/Rektor UNJ.
    Nama Labschool di masyarakat pada kondisi saat ini sangat baik, sekolah yang aman, tidak pernah terlibat tawuran, ranking hasil Ujian Nasional di DKI Jakarta sangat baik, perguruan tinggi sangat percaya dengan integritas Labschool, serta guru dan sekolahnya dalam forum-forum pertemuan seperti MGMP, pelatihan-pelatihan, dan lainnya, memperoleh apresiasi dan penghormatan yang baik dari sesama rekan guru dari sekolah lain. Jadi kini saat yang tepat untuk Labschool mengembangkan sayapnya.
    Dalam proses pendirian sekolah tentu tim akan menemui hambatan, tantangan tetapi tidak boleh mundur, tidak boleh takut seperti kata pak Bedjo. Cita-cita atau konsep mendirikan sekolah tetap harus dijalankan, pak Arief Rachman seingat penulis dalam suatu kesempatan rapat PA pada dekade 1990an di Rawamangun pernah mengajarkan bahwa tidak boleh karena persoalan teknis konsepnya tidak dijalankan, tetapi bahwa ada kesulitan-kesulitan teknis itu harus dicarikan solusinya.


Spirit Satu Labs
    Frasa pertama adalah spirit satu labs atau semangat satu labs. Pada awal istilah Satu Labs diwacanakan, penulis sempat bertanya-tanya apa konsep atau maknanya, apa tujuan atau arahnya, dan bagaimana aplikasinya. Istilah ‘Satu Labs’ sempat mewarnai spanduk-spanduk kegiatan di Labschool dan menjadi jargon dalam pidato-pidato. Tetapi penjelasan utuh yang komprehensif atas konsep Satu Labs juga tidak ada, penulis sempat sinis dan menganggap hanya sebagai slogan saja tanpa makna.
    Tetapi setelah membaca pelan-pelan tema lokakarya 2012, konsep ‘Satu Labs’ dapat dimaknai. Frasa pertama ini merupakan landasan untuk melaksanakan frasa kedua. Oleh karena itu frasa pertama harus jelas terlebih dahulu.
    
    Menurut penulis ada dua makna “Spirit Satu Labs”, yaitu pertama, makna yang sifatnya artifisial, lebih menonjolkan simbol, identitas, atau nomenklatur, seperti : persamaan logo sekolah, kaos seragam olahraga, kop surat, logo di mobil dinas, berbagai stiker labschool, dan lain-lain. Bagi warga Labschool makna di balik simbol itu adalah segala proses edukatif yang dilakukan oleh Labschool, jadi bukan sekedar simbol tanpa makna. Makna artifisial ini penting untuk membangun integrasi dan self-consciousness (kesadaran diri) sebagai warga Labschool, serta identitas di mata masyarakat.
    Warga Labschool perlu memiliki rasa “nasionalisme Labschool” atau sense of belonging, peduli pada kelangsungan dan kemajuan Labschool. Seiring dengan itu membangun interaksi simbolik dengan masyarakat itu penting sebab melalui simbol-simbol masyarakat akan mengetahui dan mengingat Labschool begitu melihat simbol tersebut. Selanjutnya melalui simbol itu masyarakat akan menilai dan memaknai bagaimana Labschool itu sesungguhnya. Sepanjang Labschool bisa mempertahankan dan meningkatkan kualitas proses-proses edukatifnya, maka selama itu pula masyarakat akan menghargai dan mempercayai simbol-simbol Labschool.
    Kedua, makna yang sifatnya substansial, yaitu yang berkaitan dengan isi, berupa proses-proses edukatif yang berlangsung di Labschool. Proses edukatif meliputi proses akademik dan kesiswaan dengan berbagai programnya, termasuk juga budaya Labschool (school culture) yang tumbuh, berkembang, dan hidup dalam atmosfer Labschool. Kurikulum nasional dan hidden curriculum menjadi landasan dalam pelaksanaan proses edukatif.
    Untuk memperkuat makna substansial ini maka segala proses edukatif yang terjadi di Labschool sangat perlu dituangkan dalam konsep secara tertulis dan sistematis untuk diketahui bersama segenap warga Labschool sebagai pedoman. Penulis menyebut pedoman ini sebagai Kurikulum Labschool. Inilah yang penulis maksud dengan unifikasi dan kodifikasi proses-proses atau sistem pendidikannya pada aspek-aspek tertentu yang pokok atau mendasar. Di sinilah salah satu letak spirit satu Labs tadi. Sehingga masyarakat dapat merasakan “menu edukatif” yang sama pada aspek-aspek yang pokok dan mendasar di manapun bersekolah di Labschool.  Pedoman ini dapat diberi nama Pedoman Pendidikan di Labschool atau lainnya yang lebih sesuai. Masyarakat juga dapat diberi akses untuk mengetahui dan mempelajari pedoman ini.
    Dalam rangka pembuatan pedoman ini setidaknya ada 3 pedoman pokok yang perlu disusun. Pertama, Pedoman Pendirian Sekolah Labschool, yang berisi pedoman untuk mendirikan sekolah-sekolah Labschool. Untuk mempercepat dan memperbanyak sekolah, tanpa harus mengesampingkan kualitas, maka pendirian Labschool baru, bisa dilakukan melalui berbagai cara, antara lain : pendirian baru, francais, kerjasama operasi, akuisisi, atau yang lainnya. Masing-masing cara ini dibuatkan SOP atau sistemnya.
    Kedua, Pedoman Pendidikan Labschool, yang berisi unifikasi proses-proses atau sistem pendidikan di Labschool berupa aspek-aspek yang pokok dan mendasar, yang wajib ada dan diajarkan atau ditanamkan di semua Labschool dan kepada semua warga Labschool. Jadi dapat dikatakan di sinilah “roh’-nya Labschool, atau di sinilah ke-Labschool-annya. Di sinilah letaknya Kurikulum Labschool.
    Ketiga, Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Labschool (tingkat sekolah), yaitu pedoman pendidikan di masing-masing sekolah Labschool yang merupakan penjabaran dari pedoman kedua, berupa Peraturan Akademik, Peraturan Kesiswaan, dan pengembangannya di masing-masing sekolah. Biarkan pedoman tingkat sekolah berbeda-beda atau bervariasi pengembangannya sesuai dengan kebutuhan lokal dan kreativitas masing-masing. Perbedaan dan variasi ini akan memperkaya proses-proses edukatif yang pada saatnya akan bisa ditarik dan dimasukkan ke dalam pedoman kedua, sehingga bisa dipergunakan oleh semua sekolah Labschool. Nama-nama pedoman dapat disesuaikan tetapi secara substansi terdiri dari 3 hal tadi.

Simpulan
    Ketika ketiga pedoman pokok ini sudah ada dan dilaksanakan maka akan mempermudah dan mempercepat Labschool memberikan kontribusinya dalam pendidikan sehingga dalam hati masyarakat juga akan merasa tertanam kesan yang dalam akan  jasa serta peran Labschool Universitas Negeri Jakarta ....”.  Ketiga pedoman ini akan mempermudah pertumbuhan dan perkembangan Labschool, serta mempermudah dalam menyusun dan melaksanakan kegiatan atau program-programnya.
    Pada setiap kegiatan atau programnya dapat mengandung makna Spirit Satu Labs, baik yang sifatnya artifisial maupun yang substansial. Kedua makna, artifisial dan substansial bisa muncul di saat yang bersamaan pada suatu kegiatan atau program, bahkan saling memperkuat. Jadi makna Spirit Satu Labs ini menjadi landasan untuk Labschool berkontribusi meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Dengan demikian sudah saatnya Labschool mengembangkan ide dan pemikiran strategis, serta menindaklanjutinya dengan langkah-langkah yang konkret. ***

 

 

BERITA TERBARU