Pendaftaran: 9 Jan - 15 Feb 2018, Tes : 18 Februari 2018, Pengumuman Hasil Tes : 24 Feb 2018, Tes Kesehatan : 26-28 Feb 2018, Daftar Ulang : 28 Feb, 1-2 dan 5-7 Maret 2018
Sebaran Alumni TP 2016/2017 per 10 Januari 2018
Selamat Kepada Marwan Subroto,S.Pd. dan Hardiyanto,S.Pd.
HASIL AKREDITASI 2016 SMA Labschool Kebayoran
1 Perak, 2 Perunggu di OSN 2016 Palembang
Data Alumni SMA Labschool Kebayoran 2015-2016
DARI PENGADILAN NEGERI JAKARTA SELATAN
 stulap pengadilan korban

DARI PENGADILAN NEGERI JAKARTA SELATAN
"Besok kumpul di sekolah jam 6 ya!"
*
Selasa, 16 Desember 2014, 05.57
Saya masuk ke dalam bis X IIS 1 masih dengan muka baru bangun tidur. Dan meskipun saya masih setengah sadar, saya yakin bis tersebut belum setengahnya terisi. Buat sedetik, saya pengen balik ke rumah dan tidur lagi. Tapi sedetik berikutnya, saya berpikir, "Kapan lagi saya liat persidangan secara live?" Berhubung saya juga penggemar berat Law & Order, saya memutuskan buat tidur di bis saja.

Tapi, saya gagal tidur karena kami sekelas sibuk karaoke dengan TV super kecil yang terpasang di tiga daerah berbeda. Tapi kelas kami masih senang-senang saja. Kami sampai nggak merasakan bahwa perjalanan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan terasa begitu singkat.

Memasuki pelataran PN Jaksel, kami disuruh menentukan siapa-siapa saja dari kami yang akan bermain peran dalam simulasi persidangan. Diantara kami ada yang jadi Jaksa, Hakim, Pengacara, Saksi bahkan Korban dan Pelaku. Karena dua kelas digabung: IIS 1 dan IIS 2, nggak bisa semua dapet peran-peran tersebut. Jadi, Bu Noey - guru PPKn, menjanjikan simulasi sidang di kelas masing-masing di awal semester dua. Sebelum simulasi sidang, kami disuruh mendengar ceramah tentang tugas dan wewenang seorang Advokat, Hakim, dan Jaksa. Saya yang paling nggak suka ceramah, karena meskipun udah duduk paling depan, masih males merhatiin. Beda kalau praktek langsung, kami lebih bisa fokus pada kesalahan-kesalahan yang kami lakukan jadi belajar terasa lebih menarik.

Saya dengarkan saja ceramah-ceramah tadi, meskipun yang saya dengar cuma jantung saya menggebu-gebu ingin segera melihat sidang betulan – meski hanya simulasinya. Lalu, akhirnya, setelah detik merayap lambat, kami pun di bawa ke ruangan lain untuk simulasi. Bagus sih, wallpapernya warna pink dan ada motif-motif kayak wallpaper untuk kamar anak kecil. Katanya sih, karena itu ruang persidangan anak dan anak itu yang umurnya di bawah tujuh belas tahun.

Untung, saya dapat kursi kedua dari depan, karena ruangannya sangat sempit, sementara kami jumlahnya kelewat banyak. Akhirnya, beberapa anak jadi nggak kebagian menyaksikan simulasi sidang. Sidang dibuka oleh Patwin, selaku Ketua Majelis Hukum dan suasana mendadak berubah khidmat. Skenarionya juga sudah dibagikan jadi kami bisa mengikuti dengan baik. Kasusnya itu seorang anak kos yang dikeroyok oleh dua orang lainnya, kalau saya belum lupa. Korbannya adalah Hafiz, sementara pelaku adalah Mame dan Amink. Sidang diawali dengan mendengarkan tuntutan yang dibacakan oleh Marsha dkk selaku Jaksa, oya, surat tuntutan yang dibacakan tersebut dikenal sebagai Eksepsi kalau dalam hukum.

Kehadiran Hafiz sebagai korban yang penuh dengan luka ditubuhnya menambah suasana sidang jadi semakin riuh, karena luka-luka dan balutan perban di kepalanya membuat kami terpingkal melihatnya. Keterangan korban ini dianggap penting dalam persidangan, itu sebabnya sebisa mungkin korban diharapkan hadir.

Sebelum Majelis hakim menjatuhkan putusan/vonis, Pengacara diberikan hak untuk membacakan pembelaannya atau yang dalam istilah hukum dikenal sebagai Pleidoi. Pembelaan ini ditujukan supaya si pelaku mendapat perlakuan yang sama didepan hokum dan pengadilan karena bagaimanapun juga ia harus dianggap sebagai orang yang tidak bersalah lebih dulu sebelum ada vonis dari hakim, inilah yang dinamakan asas Praduga tidak bersalah atau Presumption of Innocence.

Itulah sekelumit pengalaman belajar hukum ditempat dimana hukum itu seharusnya ditegakkan. Dan demi Keadilan, maka hukum itu harusnya tidak tunduk pada kekuasaan dan kepentingan siapapun. Hehe..

Waktu kami keluar dari PN Jaksel, ternyata di luar sedang berlangsung sidang kasus Jakarta International School. Katanya pihak sekolah ingin membebaskan para terdakwa. Saya sebenarnya bingung, tapi biarlah mereka punya pelajaran untuk mereka sendiri. Kami juga punya pelajaran sendiri-sendiri untuk hari itu, tergantung bagaimana cara kami memandangnya. Tapi, buat saya itu berharga. Semoga buat mereka juga.

 

BERITA TERBARU