11 September 2010 03:03 WIB
Halaman DepanKontak InfoPeta Situs
 
Artikel
Cari :
 
Halaman Depan
Profil Sekolah
Akademik
Program Unggulan
Prestasi
Berita
Artikel
Forum Diskusi
Kesiswaan
P.O.M.G
Galeri Foto
Alumni
Kontak Info
GAMES LABS
Download
Webmail
Guest Book
Artikel Versi Cetak
 
27 April 2010 06:06 WIB
Ujian Nasional Saja Tidak Cukup....!

Ujian Nasional Saja Tidak Cukup ....!  Pengumuman kelulusan Ujian Nasional (UN) Sekolah Menengah Atas (SMA/SMK/MA) telah dilaksanakan pada tanggal 26 April 2010 kemarin. Hasil yang mengejutkan banyak pihak terutama orang tua, guru, kepala sekolah, dan siswa yang bersangkutan. Menurut Harian Kompas 27 April 2010 secara nasional dari 1.522.162 peserta UN terdapat 154.079 yang harus mengikuti UN ulang pada tanggal 10 – 14 Mei 2010. Tingkat kelulusan UN tahun 2010 mengalami penurunan dari 95,05% pada tahun 2009 menjadi 89,61%.

Jika melihat syarat kelulusan dari satuan pendidikan yaitu: 1. Menyelesaikan seluruh proses pembelajaran di sekolah. 2. memperoleh nilai baik untuk mata pelajaran Akhlak Mulia, kepribadian yang diselenggarakan oleh sekolah. 3. Lulus Ujian Sekolah dan 4. Lulus Ujian Nasional. Memang UN bukan merupakan satu-satunya syarat kelulusan tapi dalam praktiknya tidak mampu berdiri sendiri. Menurut ST Kartono (Kompas, 27 April 2010) keempat kriteria kelulusan saling mem-“veto” karena tidak ditentukan bobot presentase setiap kriteria. Jika salah satu kriteria tidak terpenuhi, maka siswa dinyatakan tidak lulus. Contoh nyata, salah satu siswa SMAN paling terkenal di Bandung yang sudah diterima di Institut Teknologi Bandung dinyatakan harus mengulang Ujian Nasional Matematika (tidak lulus UN) padahal nilai yang lainnya tinggi bahkan Nilai Fisikanya 9,00.

Melihat fenomena yang terjadi sekarang, teringat waktu masih di SMA (tahun 1988) dimana kriteria kelulusan berdasarkan: 1. Nilai untuk mata pelajaran PMP, Agama, dan Bahasa Indonesia tidak boleh “merah” (dibawah 6,00), 2. Rata- rata nilai seluruh mata pelajaran minimal 6,00 dan 3. Sikap/perilaku baik (syarat-syarat secara detail lupa-lupa ingat). Untuk formulasi nilai akhir setiap mata pelajaran menggunakan rumusan (2P + Q + 2R)/5 dimana P = nilai semester I kelas 3, Q = rata-rata nilai tugas, dan R = nilai EBTANAS/EBTA. Seandainya kriteria UN diterapkan pada waktu itu dipastikan saya termasuk siswa yang tidak lulus, mengingat waktu Evaluasi Belajar Tahap Akhir nasional (EBTANAS) pas pelajaran matematika sakit terkena tetanus yang berdampak pada nilai yang diperoleh dibawah 4,00. Terlepas dari positif negatifnya EBTANAS, kriteria kelulusan waktu itu betul-betul menjadi otoritas sekolah sebagai evaluator proses pendidikan yang tahu persis kemampuan peserta didiknya.

Sebagai guru mata pelajaran yang di-UN-kan, hari-hari ini sedang dalam kondisi H2C (harap-harap cemas) menunggu hasil UN SMP yang pengumumannya tanggal 7 Mei 2010. Terbersit dalam bayangan tahun lalu, ketika semua siswa memenuhi kriteria kelulusan UN dan 100% lulus dari SMP ini perasaan gembira dan sedih bercampur baur. Gembira karena telah memberikan sebagian kontribusi bagi kelulusan mereka selama November s.d. Maret dalam kegiatan PM (pendalaman materi), sedih bahkan miris (mungkin agak hiperbola) ketika berkaca pada proses pembelajaran di kelas 9 semester II yang berorientasi pada hasil UN. Hampir di semua sekolah, kegiatan pembelajaran kelas 9 terutama semester II difokuskan pada drilling soal, sementara keterampilan proses dan cara belajar siswa aktif menjadi “terabaikan”. Harapan kontruktivisme dimana peserta didik dapat mengkonstruksi pengalaman belajarnya ke dalam kehidupan sehari-hari menjadi minimal. Tidak ada lagi keceriaan anak-anak pada saat membuat tempe dan nata de coco, menanam tanaman secara hidroponik dan vertikultur, makan bersama pada saat anak menata dan menyusun menu seimbang, atau teriakan anak-anak yang minta dibimbing percobaan Mendel karena hal itu banyak menyita waktu untuk praktikum. Yang terjadi adalah pembahasan soal, Try Out berkali-kali, dan bagaimana tips menjawab soal-soal model UN. Pendidikan terjerumus pada pembelajaran yang hanya beranah kognitif.

Lepas dari hasil UN yang masih H2C tadi, siswa, orang tua siswa, dan guru masih dihadapkan pada model baru Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) untuk SMAN RSBI khususnya di DKI Jakarta. Mulai tahun pelajaran 2010/2011 SMAN RSBI DKI Jakarta yang pada umumnya merupakan sekolah unggulan wilayah/provinsi menerapkan tiga model PPDB yaitu: 1. Tes seleksi PPDB RSBI (sekitar 80% kuota) yang meliputi; seleski administrasi yang mensyaratkan nilai lima mata pelajaran (Bahasa Indonesia, Bahasa Ingris, Matematika, IPA, dan IPS) masing-masing minimal 7,5 (skala 0 -10), tes lima mata pelajaran tadi, Tes kemampuan komputer (TIK), dan wawancara. 2. Seleksi PPDB berdasarkan jalur prestasi (sekitar 5%), diperuntukan bagi siswa yang memiliki prestasi akademik/non akademik di tingkat Provinsi, Nasional, atau Internasional yang dibuktikan dengan piagam penghargaan/sertifikat, dan 3. Seleksi PPDB seperti tahun-tahun sebelumnya yaitu berdasarkan nilai UN (sekitar 15%).

Kuota PPDB yang paling besar melalui seleksi RSBI seolah-olah menihilkan nilai UN karena yang paling berpengaruh adalah hasil seleksi tersebut. Siswa harus dipacu lagi untuk mempersiapkan lima materi pelajaran yang diteskan. Kuat dugaan, untuk memilih siswa yang memang betul-betul berprestasi secara akademik soal yang diberikan standarnya lebih tinggi dari soal UN mengingat UN dibatasi oleh kisi-kisi yang termaktub lebih detail dalam kemampuan yang diuji, sedangkan soal tes RSBI bisa mencakup Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) mata pelajaran yang diuji yang cakupannya lebih luas dan tidak dapat diprediksi (unpredicticable). Harapan siswa dan orang tua siswa memperoleh nilai UN yang bagus sehingga dapat diterima di SMAN pavorit, untuk tahun ini harus sertai dengan tes seleksi yang ketat. Andai saja Informasi ini lebih awal disampaikan kepada sekolah/masyarakat, kita lebih siap mental untuk menghadapinya. Wallahualam bi sawab.   

                                                                                                                                   Rosiman Guru IPA~Biologi SMP Labschool Jakarta
Artikel Lainnya.
15 Juli 2010 09:37 WIB
Foto Guru-guru SMP Labschool Jakarta
15 Juli 2010 09:31 WIB
Materi Respect Each Other
10 Juli 2010 06:37 WIB
Press Release MOS 2010 SMP Labschool Jakarta
21 Maret 2010 05:17 WIB
"diary" Saksi di Mataku
Login ID :
Password :
Pin :
gambar pin
Lupa Password?
Perlu Bantuan?

Hubungi Administrator bila mengalami kesulitan.
Jumlah Pengunjung
111652
Labschool Jakarta > SMP Labschool Jakarta
© 2006, Hak Cipta oleh Labschool Jakarta